Wednesday, November 23, 2011

REVIEW : The Woman

Sebuah artikel di situs filmoo.com mengulas tentang film2 apa saja yang menang di Toronto After Dark Film Festival. Salah satu film yang jadi pemenang favorit film horror adalah The Woman. Film ini menarik perhatian saya sejak trailernya dimunculkan juga di situs tersebut. Begidik "ngeri" itu yang saya rasakan pertama kali melihat trailernya. Sepertinya akan penuh darah dan adegan-adegan slasher lainnya. Hmm.. sampai akhirnya saya berhasil donlot film ini dan walaa.. saya pun selesai nonton hari ini. 


Cerita bermula ketika seorang ayah, Chris Cleek (Sean Bridge) melihat seorang wanita "liar" di tengah hutan ketika sedang berburu. Dia berencana membawa wanita tersebut ke rumah untuk "memanusiakan"nya. Dia pun berhasil menangkap, kemudian mengurungnya di ruang bawah tanah milik keluarganya. Seluruh anggota keluarganya diajak untuk ikut mengajari sang wanita agar menjadi manusia normal. Hanya sang ibu, Belle Cleek (Angela Bettis) dan sang kakak perempuan, Peggy Cleek (Lauren Ashley Carten) lah yang menunjukkan rasa iba dan kasihan kepada wanita hutan tersebut. Sedangkan sang ayah dan anak laki-lakinya, Brian Cleek (Zach Rand) sedikit memandang rendah dan remeh pada wanita tersebut. Kejadian menyeramkan itu pun terjadi ketika sang wanita liar ini lepas dan berusaha membalas dendam kepada seluruh anggota keluarga. 






Bagi saya The Woman adalah sebuah film horror yang dibalut cerita drama yang luar biasa. Di awal-awal saya dipaksa ikut hanyut ke kisah keluarga ini. Bahkan belum sampai tengah film, sempat muncul pertanyaan 'ini sebenarnya film drama atau horror kok perasaan dari tadi ga ada takut-takutnya.' hehe.. Keluarga ini digambarkan seperti sebuah keluarga pada umumnya. Hanya saja ada sedikit atmosfer ganjil dan aneh diperlihatkan film ini. Rasa depresi dan tertekan dari beberapa anggota keluarga terlihat natural sehingga rasa iba dan kasihan muncul dari penonton. Perasaan agak datar dan aneh itu kebayar ketika 3/4 film selesai di lewati. Sebuah klimaks disiapkan di akhir film ini sehingga bagi penggemar film horror, terasa seperti bisul yang pecah di ending film. Imajinasi "gila" pembunuhan manusia ditampilkan dengan sangat apik di akhir film ini. 

Puas.. itu satu kata ketika selesai menonton film ini. Emosi yang dibangun dari awal terjawab lepas di akhir-akhir film. Rasa dendam dan marah dari sang wanita hutan ini ditumpahkan dengan luar biasa di ending. Kekesalan saya terhadap sang ayah dan anak laki-laki seperti terbayar lunas. Pollyanna Mcintosh yang berperan sebagai wanita hutan berhasil membawakan karakter "liar" dengan bagus. Dendamnya terhadap keluarga ini terpancar dari sorot matanya yang tajam dari awal dan boommm.. dendamnya terbayarkan dengan luar biasa di ending. Tidak sia-sia kalo film ini menyabet penghargaan di Toronto After Dark Film Festival untuk best film horror, best aktor, best aktris, best editing, best villain dan tentu saja most disturbing film. Hmmm.. bagi saya tidak hanya segi ceritanya yang ciamik tapi juga sinematografinya yang top markotop untuk ukuran film horror. Standing applaus lah buat film ini. Pokoknya film horror wajib tonton tahun ini. :beer: :beer: 

Overall Rating : 8.2

Tuesday, November 22, 2011

REVIEW : Lake Mungo

Sebelum saya nonton The Human Centipede sebenarnya ada 1 film yang saya tonton.  Sebuah film horror bertipe mockumentary, yang berjudul "Lake Mungo". Film yang berasal dari Australia ini,  cukup mendapat sambutan yang hangat dari para penggemar film horror. Film ini memang digadang2 lebih mengerikan dan lebih kelam dari paranormal activity sekalipun (itu yang saya baca dari review orang). 


Cerita ini berawal dari hilangnya anak perempuan dari sebuah keluarga yang bernama Alice (Talia Zucker) di sebuah danau 'Lake Mungo'. Setelah pencarian beberapa hari akhirnya ditemukan jasad sang anak yang sudah dalam keadaan tewas. Dengan jasad yang cukup menyedihkan, akhirnya hanya sang ayah (David Pletger) yang berani memastikan dan menerimanya. Selang beberapa hari mulai munculah kejadian-kejadian aneh di rumah keluarga ini. Dimulai dengan beberapa penampakan yang muncul dari foto dan video yang diambil oleh sang kakak Matthew (Martin Sharpe). Aktivitas supranatural juga dirasakan oleh sang ibu (Rosie Trainor) yang justru mengambil kesimpulan bahwa anaknya sebenarnya belum mati. Misteri demi misteri terkuak sedikit demi sedikit dari pertengahan film ini sampai pada akhirnya penyebab kematian Alice.




Mockumentary bisa diibaratkan sebagai sebuah fake dockumenter, karena film sejenis ini menggunakan teknik pengambilan gambar seperti pada film dokumenter, akan tetapi itu bukan film dokumenter. Film sejenis ini biasanya memanfaatkan ide cerita dan akting-akting natural dari para aktornya. Sehingga akan terlihat seperti kisah nyata yang difilmkan. Yang saya salut dari film ini adalah atmosfer horror yang ditampilkan dari awal secara bertahap dan pasti. Bukan dengan kemunculan "hantu" atau penampakan yang tiba-tiba, namun justru dengan hasil zoom-in suatu foto atau video rekaman. Dengan teknik ini, kita sebagai penonton dibuat berimajinasi liar dan menerawang berbagai kemungkinan dari penampakan selanjutnya.

Masih dari sisi atmosfer yang mengerikan, menonton film ini seperti kita diajak untuk ikut hanyut ke dalam misteri kematian Alice yang janggal. Yang membuat kita menerka-nerka penyebab kematiannya. Ditunjang dengan efek suara yang sangat-sangat dingin, film ini mampu membuat saya merinding sepanjang film. Terlebih lagi ketika diawal-awal diperlihatkan jasad Alice yang cukup ehemm... 'mengerikan' menurut saya, menambah kesan kelam kematian sang anak. 2 jempol saya angkat untuk sineas dari Australia yang sangat luar biasa menampilkan efek "real" dari fake documenter ini.  :beer:

Overall Rating : 7 / 10

Monday, November 21, 2011

REVIEW : The Human Centipede (First Sequence)

Sudah kira-kira 1 bulan lebih ga posting di blog akhirnya hari ini bisa juga posting.  Hmmm.. akhir2 ini saya sedang menjadi terobsesi dengan film-film bertipe horror, slasher, gore, thriller dan sejenisnya.  Mungkin ini sedikit pelarian saya dari tugas akhir saya yang "terpaksa" harus saya ulang lagi dan lagi.  Oke..sekarang ada satu film yang akan saya review di sini. yaitu : The Human Centipede (First Sequence)


Ini merupakan sebuah film bergenre thriller-horror berasal dari Belanda.  Bercerita tentang seorang dokter yang melakukan eksperimen mengerikan mengenai penyambungan tubuh manusia.  Dokter yang bernama dr. Heiter (Dieter Laser) merupakan seorang pensiunan dokter bedah yang terkenal dengan pembedahan kembar siam. Dokter ini memiliki obsesi ganjil tentang eksperimen penyambungan tubuh manusia. Menurutnya kalo manusia kembar siam bisa dipisahkan dengan operasi, maka manusia pun dapat disambung menggunakan operasi pula.  

Cerita dimulai ketika 2 orang turis yang berasal dari amerika, Lindsay (Ashley C. Williams) dan Jenny (Ashlynn Yennie)  melakukan liburan di Jerman. Keduanya tersesat di dalam hutan ketika melakukan perjalanan ke sebuah pesta. Dan secara tidak sengaja datang ke rumah milik dokter gila tersebut.  Kisah pun dimulai ketika mereka dibius dan masuk ke ruang operasi.  Terdapat juga seorang turis dari Jepang, Katsuro (Akihiro Kitamura) yang menjadi korban ketiga dari sang dokter.  Ketiga turis ini akan disambung menjadi 1 sehingga terlihat seperti Lipan (centipede). Konflik film ini muncul ketika diakhir-akhir "lipan" ini berusaha melarikan diri. Di bagian ini sajalah saya melihat adanya konflik yang "sedikit" mendebarkan. 




Oke..berikut review saya : kengerian yang saya harapkan sebelumnya muncul dari pembedahan seperti film slasher-slasher sejenisnya tidak saya dapatkan di film ini.  Sisi pembedahan yang berdarah-darah justru dimunculkan dalam porsi yang sangat sedikit.  Terhitung cuma ada 2 hal yang membuat saya "sedikit" ngilu. Yaa.. mungkin gara-gara itu film ini tidak bergenre slasher tapi justru horror-thriller.  Tag line "100% medically accurate" menjadi semacam sugesti awal bagi penonton bahwa apa yang dieksperimenkan pada film ini memang bisa dibuat secara real.  Penonton akan dibawa ke imajinasi dari segi pembedahannya, namun justru tidak diperlihatkan secara ekplisit oleh film ini.

Sisi minus dari segi "pembedahan" sebenarnya bisa ditutup dari ide yang original tentang film ini. Ide gila sang  penulis cerita tentang penyambungan manusia patut diapresiasi, karena ini merupakan film pertama yang menggambarkan eksperimen penyambungan dengan dasar dukungan dari segi medis. Hmm.. mungkin saya merekomendasikan film ini bagi para penikmat film yang sedikit penasaran dengan istilah "sambung manusia", tapi bagi penggemnar slasher, jangan terlalu berharap banyak dari film ini. 

Overall Rating : 5.5 / 10

NEXT REVIEW : The Human Centipede II (Final Sequence)