Monday, December 5, 2011

REVIEW : The Human Centipede 2 (Full Sequence)

Ini merupakan sebuah sekuel dari Tom Six, untuk melanjutkan seri sebelumnya yaitu The Human Centipede (First Sequence). Dengan judul yang sama Tom Six ingin menjawab semua kritik dari filmnya sebelumnya. Film pertama yang sebelumnya dirilis, dianggap "mengecewakan" oleh sebagian penikmat film gore. Kurang berdarah-darah dan kurang sadis, bahkan cenderung disingkat-singkat bagian "penyiksaan"nya. Tidak sesuai dengan ekspektasi yang sangat berlebih dari sejak pertama film itu akan dirilis. Film keduanya ini menjawab semuanya. Permintaan dari penikmat film sadis dijawab dengan lugas di film keduanya ini. 


Cerita masih sama yaitu tentang ide penyambungan manusia. Bedanya adalah tokoh psycho di film kedua ini bukan dokter bedah ataupun seorang ahli kedokteran, melainkan hanya seorang penjaga tempat parkir. Di sinilah justru sisi "sakit" dimunculkan sempurna oleh seorang tukang parkir yang tidak memiliki background dari dunia kedokteran. Diceritakan seorang tukang parkir bernama Martin yang terobsesi dengan manusia kelabang setelah melihat film The Human Centipede pertama. Bahkan dia sampai membuat sebuah buku untuk mendokumentasikan film tersebut. Entah kenapa tiba-tiba tercetuslah di otaknya untuk membuat manusia kelabang yang sama dengan apa yang dia saksikan di film tersebut. Dia tidak hanya mencoba dengan 3 orang seperti pada film pertama, tetapi dengan 11 orang yang akan dipakai sebagai kelinci percobaan. Bayangkan saja seperti apa kengeriannya..hahaha... 





'Mual' itu kata sebagian besar teman saya yang ikut menonton film ini. 2 kali lebih sadis, 2 kali lebih gila imajinasinya dan 2 kali lebih menjijikan. Sang Psycho gendut diperankan dengan baik oleh Laurence R. Harvey. Dengan akting yang tanpa suara, menambah kelam sisi jahat dari sang tokoh utama. Hanya dengan bersenjata pistol dan linggis, dia berhasil menangkap 11 orang untuk dijadikan bahan eksperimen. Beberapa korbannya hanya dipukul dengan linggis untuk membuatnya pingsan kemudian mengangkutnya ke sebuah gudang tua.. Memang agak-agak tidak masuk akal kalau dilihat dari postur sang tokoh utama yang pendek yang gendut. Bagaimana mungkin dia bisa mengangkat seorang preman besar tetangga rumahnya..aneh..hehe..
  
Yang lebih sakit lagi adalah sang psycho tidak menggunakan pisau bedah ataupun anestesi secara medis untuk melakukan eksperimen. Dia menggunakan pisau dapur, palu dan linggisnya untuk melakukan operasi. Untuk membius korbannya Martin hanya menggunakan linggis. Ya.. cukup dipukulkan ke kepala korban sampai korban pingsan. Bahkan dia tidak menggunakan benang jahit untuk menyambung mulut dan 'maaf' anus dari korbannya, dia hanya menggunakan stapler. Bayangkan saja ke-ngilu-annya..haha..

Secara umum film kedua ini mampu membayar kekecewaan pecinta film sadis seperti saya. Walaupun jika saya lihat, film ini memiliki sedikit kekurangan dari sisi cerita dan tampilan video hitam putihnya. Terlalu datar dan kurang memberikan tantangan. Penonton hanya diajak begidik ngeri dengan eksperimen yang dilakukan oleh Martin. Tapi semua itu ditutup dengan kesadisan yang ditawarkan. Dari awal saya hanya mengatakan 2 kata-kata ini sadis dan menjijikan. Ya..memang hanya dua kata itu saja yang mampu mewakili film ini. Saya sarankan anda tidak menontonnya jika anda merasa lemah jantung dan gampang mual, karena serius ini film benar-benar "sakit".  


Overall Rating : 7.5

No comments:

Post a Comment