Sunday, December 25, 2011

25 Desember 2011



Joy to the world! the Lord is come;
Let earth receive her King.
Let ev'ry heart prepare Him room,
And heav'n and nature sing,
And heaven and nature sing,
And heaven, and heaven, and nature sing.


Monday, December 5, 2011

REVIEW : The Human Centipede 2 (Full Sequence)

Ini merupakan sebuah sekuel dari Tom Six, untuk melanjutkan seri sebelumnya yaitu The Human Centipede (First Sequence). Dengan judul yang sama Tom Six ingin menjawab semua kritik dari filmnya sebelumnya. Film pertama yang sebelumnya dirilis, dianggap "mengecewakan" oleh sebagian penikmat film gore. Kurang berdarah-darah dan kurang sadis, bahkan cenderung disingkat-singkat bagian "penyiksaan"nya. Tidak sesuai dengan ekspektasi yang sangat berlebih dari sejak pertama film itu akan dirilis. Film keduanya ini menjawab semuanya. Permintaan dari penikmat film sadis dijawab dengan lugas di film keduanya ini. 


Cerita masih sama yaitu tentang ide penyambungan manusia. Bedanya adalah tokoh psycho di film kedua ini bukan dokter bedah ataupun seorang ahli kedokteran, melainkan hanya seorang penjaga tempat parkir. Di sinilah justru sisi "sakit" dimunculkan sempurna oleh seorang tukang parkir yang tidak memiliki background dari dunia kedokteran. Diceritakan seorang tukang parkir bernama Martin yang terobsesi dengan manusia kelabang setelah melihat film The Human Centipede pertama. Bahkan dia sampai membuat sebuah buku untuk mendokumentasikan film tersebut. Entah kenapa tiba-tiba tercetuslah di otaknya untuk membuat manusia kelabang yang sama dengan apa yang dia saksikan di film tersebut. Dia tidak hanya mencoba dengan 3 orang seperti pada film pertama, tetapi dengan 11 orang yang akan dipakai sebagai kelinci percobaan. Bayangkan saja seperti apa kengeriannya..hahaha... 





'Mual' itu kata sebagian besar teman saya yang ikut menonton film ini. 2 kali lebih sadis, 2 kali lebih gila imajinasinya dan 2 kali lebih menjijikan. Sang Psycho gendut diperankan dengan baik oleh Laurence R. Harvey. Dengan akting yang tanpa suara, menambah kelam sisi jahat dari sang tokoh utama. Hanya dengan bersenjata pistol dan linggis, dia berhasil menangkap 11 orang untuk dijadikan bahan eksperimen. Beberapa korbannya hanya dipukul dengan linggis untuk membuatnya pingsan kemudian mengangkutnya ke sebuah gudang tua.. Memang agak-agak tidak masuk akal kalau dilihat dari postur sang tokoh utama yang pendek yang gendut. Bagaimana mungkin dia bisa mengangkat seorang preman besar tetangga rumahnya..aneh..hehe..
  
Yang lebih sakit lagi adalah sang psycho tidak menggunakan pisau bedah ataupun anestesi secara medis untuk melakukan eksperimen. Dia menggunakan pisau dapur, palu dan linggisnya untuk melakukan operasi. Untuk membius korbannya Martin hanya menggunakan linggis. Ya.. cukup dipukulkan ke kepala korban sampai korban pingsan. Bahkan dia tidak menggunakan benang jahit untuk menyambung mulut dan 'maaf' anus dari korbannya, dia hanya menggunakan stapler. Bayangkan saja ke-ngilu-annya..haha..

Secara umum film kedua ini mampu membayar kekecewaan pecinta film sadis seperti saya. Walaupun jika saya lihat, film ini memiliki sedikit kekurangan dari sisi cerita dan tampilan video hitam putihnya. Terlalu datar dan kurang memberikan tantangan. Penonton hanya diajak begidik ngeri dengan eksperimen yang dilakukan oleh Martin. Tapi semua itu ditutup dengan kesadisan yang ditawarkan. Dari awal saya hanya mengatakan 2 kata-kata ini sadis dan menjijikan. Ya..memang hanya dua kata itu saja yang mampu mewakili film ini. Saya sarankan anda tidak menontonnya jika anda merasa lemah jantung dan gampang mual, karena serius ini film benar-benar "sakit".  


Overall Rating : 7.5

Wednesday, November 23, 2011

REVIEW : The Woman

Sebuah artikel di situs filmoo.com mengulas tentang film2 apa saja yang menang di Toronto After Dark Film Festival. Salah satu film yang jadi pemenang favorit film horror adalah The Woman. Film ini menarik perhatian saya sejak trailernya dimunculkan juga di situs tersebut. Begidik "ngeri" itu yang saya rasakan pertama kali melihat trailernya. Sepertinya akan penuh darah dan adegan-adegan slasher lainnya. Hmm.. sampai akhirnya saya berhasil donlot film ini dan walaa.. saya pun selesai nonton hari ini. 


Cerita bermula ketika seorang ayah, Chris Cleek (Sean Bridge) melihat seorang wanita "liar" di tengah hutan ketika sedang berburu. Dia berencana membawa wanita tersebut ke rumah untuk "memanusiakan"nya. Dia pun berhasil menangkap, kemudian mengurungnya di ruang bawah tanah milik keluarganya. Seluruh anggota keluarganya diajak untuk ikut mengajari sang wanita agar menjadi manusia normal. Hanya sang ibu, Belle Cleek (Angela Bettis) dan sang kakak perempuan, Peggy Cleek (Lauren Ashley Carten) lah yang menunjukkan rasa iba dan kasihan kepada wanita hutan tersebut. Sedangkan sang ayah dan anak laki-lakinya, Brian Cleek (Zach Rand) sedikit memandang rendah dan remeh pada wanita tersebut. Kejadian menyeramkan itu pun terjadi ketika sang wanita liar ini lepas dan berusaha membalas dendam kepada seluruh anggota keluarga. 






Bagi saya The Woman adalah sebuah film horror yang dibalut cerita drama yang luar biasa. Di awal-awal saya dipaksa ikut hanyut ke kisah keluarga ini. Bahkan belum sampai tengah film, sempat muncul pertanyaan 'ini sebenarnya film drama atau horror kok perasaan dari tadi ga ada takut-takutnya.' hehe.. Keluarga ini digambarkan seperti sebuah keluarga pada umumnya. Hanya saja ada sedikit atmosfer ganjil dan aneh diperlihatkan film ini. Rasa depresi dan tertekan dari beberapa anggota keluarga terlihat natural sehingga rasa iba dan kasihan muncul dari penonton. Perasaan agak datar dan aneh itu kebayar ketika 3/4 film selesai di lewati. Sebuah klimaks disiapkan di akhir film ini sehingga bagi penggemar film horror, terasa seperti bisul yang pecah di ending film. Imajinasi "gila" pembunuhan manusia ditampilkan dengan sangat apik di akhir film ini. 

Puas.. itu satu kata ketika selesai menonton film ini. Emosi yang dibangun dari awal terjawab lepas di akhir-akhir film. Rasa dendam dan marah dari sang wanita hutan ini ditumpahkan dengan luar biasa di ending. Kekesalan saya terhadap sang ayah dan anak laki-laki seperti terbayar lunas. Pollyanna Mcintosh yang berperan sebagai wanita hutan berhasil membawakan karakter "liar" dengan bagus. Dendamnya terhadap keluarga ini terpancar dari sorot matanya yang tajam dari awal dan boommm.. dendamnya terbayarkan dengan luar biasa di ending. Tidak sia-sia kalo film ini menyabet penghargaan di Toronto After Dark Film Festival untuk best film horror, best aktor, best aktris, best editing, best villain dan tentu saja most disturbing film. Hmmm.. bagi saya tidak hanya segi ceritanya yang ciamik tapi juga sinematografinya yang top markotop untuk ukuran film horror. Standing applaus lah buat film ini. Pokoknya film horror wajib tonton tahun ini. :beer: :beer: 

Overall Rating : 8.2

Tuesday, November 22, 2011

REVIEW : Lake Mungo

Sebelum saya nonton The Human Centipede sebenarnya ada 1 film yang saya tonton.  Sebuah film horror bertipe mockumentary, yang berjudul "Lake Mungo". Film yang berasal dari Australia ini,  cukup mendapat sambutan yang hangat dari para penggemar film horror. Film ini memang digadang2 lebih mengerikan dan lebih kelam dari paranormal activity sekalipun (itu yang saya baca dari review orang). 


Cerita ini berawal dari hilangnya anak perempuan dari sebuah keluarga yang bernama Alice (Talia Zucker) di sebuah danau 'Lake Mungo'. Setelah pencarian beberapa hari akhirnya ditemukan jasad sang anak yang sudah dalam keadaan tewas. Dengan jasad yang cukup menyedihkan, akhirnya hanya sang ayah (David Pletger) yang berani memastikan dan menerimanya. Selang beberapa hari mulai munculah kejadian-kejadian aneh di rumah keluarga ini. Dimulai dengan beberapa penampakan yang muncul dari foto dan video yang diambil oleh sang kakak Matthew (Martin Sharpe). Aktivitas supranatural juga dirasakan oleh sang ibu (Rosie Trainor) yang justru mengambil kesimpulan bahwa anaknya sebenarnya belum mati. Misteri demi misteri terkuak sedikit demi sedikit dari pertengahan film ini sampai pada akhirnya penyebab kematian Alice.




Mockumentary bisa diibaratkan sebagai sebuah fake dockumenter, karena film sejenis ini menggunakan teknik pengambilan gambar seperti pada film dokumenter, akan tetapi itu bukan film dokumenter. Film sejenis ini biasanya memanfaatkan ide cerita dan akting-akting natural dari para aktornya. Sehingga akan terlihat seperti kisah nyata yang difilmkan. Yang saya salut dari film ini adalah atmosfer horror yang ditampilkan dari awal secara bertahap dan pasti. Bukan dengan kemunculan "hantu" atau penampakan yang tiba-tiba, namun justru dengan hasil zoom-in suatu foto atau video rekaman. Dengan teknik ini, kita sebagai penonton dibuat berimajinasi liar dan menerawang berbagai kemungkinan dari penampakan selanjutnya.

Masih dari sisi atmosfer yang mengerikan, menonton film ini seperti kita diajak untuk ikut hanyut ke dalam misteri kematian Alice yang janggal. Yang membuat kita menerka-nerka penyebab kematiannya. Ditunjang dengan efek suara yang sangat-sangat dingin, film ini mampu membuat saya merinding sepanjang film. Terlebih lagi ketika diawal-awal diperlihatkan jasad Alice yang cukup ehemm... 'mengerikan' menurut saya, menambah kesan kelam kematian sang anak. 2 jempol saya angkat untuk sineas dari Australia yang sangat luar biasa menampilkan efek "real" dari fake documenter ini.  :beer:

Overall Rating : 7 / 10